Minggu, 19 Mei 2019

Konfigurasi DHCP Server pada Debian 9

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Dynamic Host Configuration Protocol (DHCP) adalah protokol yang berbasis arsitektur client/server yang dipakai untuk memudahkan pengalokasian alamat IP dalam satu jaringan. Sebuah jaringan lokal yang tidak menggunakan DHCP harus memberikan alamat IP kepada semua komputer secara manual. Jika DHCP dipasang di jaringan lokal, maka semua komputer yang tersambung di jaringan akan mendapatkan alamat IP secara otomatis dari server DHCP. Selain alamat IP, banyak parameter jaringan yang dapat diberikan oleh DHCP, seperti default gateway dan DNS server.



Nah, pada kesempatan kali ini, saya akan menjelaskan mengenai langkah-langkah instalasi dan konfigurasi DHCP.

1. Konfigurasi IP Address, untuk interface pertama diarahkan ke router / AP yang terhubung ke internet, sedangkan interface kedua untuk IP DHCP Server kita. Disini saya masukkan di interface kedua dengan IP 6.6.6.6/24.


2. Install isc-dhcp-server-ldap yang merupakan software DHCP Server yang biasa digunakan untuk Debian dengan perintah apt-get.


3. Setelah DHCP diinstall, masuk ke direktori /etc/dhcp/. Kemudian copy file dhcpd.conf agar kita memiliki backup dari file tersebut. Sehingga jika terjadi kesalahan pada file utama, kita tinggal copy lagi dari file backup. Gunakan perintah cp untuk mencopy file.


4. Setelah dicopy, kemudian edit file dhcpd.conf untuk melakukan konfigurasi DHCP Server. Disini saya mengedit file menggunakan nano.


Kemudian isi pada bagian dibawah ini.
  1. Subnet isi IP Network, dan netmask isi subnet dari network kita.
  2. Range, isi rentang IP yang akan disebar ke client.
  3. option domain-name, isi name server yang telah kita konfigurasi (jika ada).
  4. option routers, isi IP server kita.
  5. option broadcast-address, isi IP broadcast dari network kita.
  6. default-lease-time, merupakan durasi default lamanya pemakaian IP oleh client.
  7. max-lease-time, merupakan durasi maksimal lamanya pemakaian IP oleh client.
Untuk poin ke 6 dan 7, pemakaian IP oleh client dinyatakan dalam satuan detik.

5. Kemudian edit file isc-dhcp-server yang berada di direktori /etc/default/.


Masukkan interface kedua yang dijadikan sebagai DHCP Server. Nama dari interface ini dapat dilihat dengan menggunakan perintah ip address atau ifconfig.

6. Kemudian restart service DHCP untuk memperbarui perubahan konfigurasi yang kita lakukan.


7. Pada sisi CLIENT, atur interface yang mengarah ke server dengan settingan DHCP, agar client mendapatkan IP Address secara otomatis dari server.


8. Kemudian restart service networking pada client.


9. Kemudian cek, apakah client telah mendapatkan IP sesuai range yang dikonfigurasi pada server? Range yang saya atur pada server di poin ke 4 yaitu 6.6.6.10 - 6.6.6.100. Disini client saya telah mendapatkan IP sesuai range yang dikonfigurasi pada server, yaitu 6.6.6.10.


10. Kemudian cek pada sisi SERVER, apakah benar client tersebut mendapatkan IP yang sesuai pada range yang dikonfigurasi di server? Cek dengan memasukkan perintah dhcp-lease-list. Nanti akan terlihat MAC Address, IP Address, Hostname, dan batas waktu pemakaian IP dari client tersebut.




IP RESERVATION
Selanjutnya kita akan melakukan Reservation IP. Yang berfungsi agar IP tidak berubah saat batas waktunya telah habis. Karena kita menggunakan DHCP, maka IP yang tidak di-reservation akan berubah setelah melewati batas waktu.

1. Ubah file dhcpd.conf pada direktori /etc/dhcp/.


Kemudian masukkan MAC Address interface client yang akan di reservation IP nya. Dan masukkan juga IP yang akan ditetapkan di interface tersebut.

2. Restart service dhcp pada server.


3. Lakukan pengecekan pada sisi CLIENT. Sebelum service networking direstart, IP Address masih menggunakan 6.6.6.10/24 yang merupakan IP yang termasuk dalam range DHCP pada server. Kemudian setelah service networking direstart, maka IP langsung berubah menjadi IP yang telah di-reservation pada server, yaitu 6.6.6.50/24.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar